5 Masjid Bersejarah Wajib Dikunjungi saat Wisata Sabang
Sabang bukan hanya soal Pantai Iboih yang bening atau titik nol kilometer yang ikonik. Di sudut-sudut kota paling barat Indonesia ini, berdiri masjid-masjid tua yang menyimpan lapisan sejarah panjang — dari masa kolonial Belanda, perjuangan kemerdekaan, hingga jejak Islam yang mengakar kuat di tanah Aceh. Bagi wisatawan yang ingin menyentuh sisi spiritual sekaligus kultural Sabang, masjid bersejarah di Sabang adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan begitu saja.
Menariknya, banyak pengunjung yang datang ke Sabang hanya fokus pada wisata alamnya, lalu pulang tanpa menyadari betapa kayanya warisan religi yang tersebar di Pulau Weh ini. Padahal, setiap masjid di sini punya cerita sendiri — arsitektur yang unik, lokasi yang strategis, dan fungsi sosial yang masih hidup hingga 2026. Tidak sedikit wisatawan yang akhirnya mengubah itinerary mereka setelah tahu fakta ini.
Jadi, kalau Anda sedang merencanakan perjalanan ke Sabang, luangkan waktu untuk singgah ke beberapa masjid berikut. Bukan sekadar wisata religi biasa, ini adalah perjalanan memahami identitas Sabang yang sesungguhnya.
Masjid Bersejarah di Sabang yang Menyimpan Jejak Peradaban Islam
1. Masjid Agung Babussalam — Pusat Spiritual Kota Sabang
Masjid Agung Babussalam adalah jantung keagamaan Kota Sabang. Berdiri kokoh di pusat kota, masjid ini menjadi tempat ibadah utama sekaligus ruang pertemuan komunitas Muslim setempat sejak puluhan tahun silam. Arsitekturnya memadukan gaya tradisional Aceh dengan sentuhan modern yang tetap elegan.
Yang membuat masjid ini istimewa adalah posisinya yang dekat dengan area pelabuhan — menjadikannya salah satu masjid pertama yang dilihat para pendatang saat tiba di Sabang lewat jalur laut. Atmosfer spiritualnya terasa kuat, terutama saat waktu shalat Jumat tiba dan jamaah memenuhi setiap sudut ruangannya.
2. Masjid Tua di Kampung Anoi Itam — Saksi Bisu Sejarah Pelayaran
Kampung Anoi Itam menyimpan salah satu masjid tertua di Pulau Weh. Masjid tua Anoi Itam dipercaya sudah ada sejak era pelayaran Islam masuk ke perairan Aceh, menjadikannya salah satu titik penting dalam peta penyebaran Islam di ujung barat Nusantara. Dindingnya yang tebal dan konstruksi kayunya yang masih dipertahankan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Banyak orang yang mengunjungi masjid ini merasakan ketenangan berbeda — semacam koneksi spiritual dengan generasi Muslim jauh sebelum kita. Tidak heran kalau fotografer budaya dan peneliti sejarah Islam sering menjadikannya lokasi dokumentasi.
Destinasi Wisata Religi Sabang yang Kaya Nilai Budaya dan Sejarah
3. Masjid Al-Ikhlas Iboih — Shalat dengan Pemandangan Laut Andaman
Siapa sangka, di dekat area snorkeling terkenal Iboih, terdapat masjid kecil namun bermakna besar. Masjid Al-Ikhlas Iboih berdiri di kawasan pesisir dengan pemandangan Laut Andaman yang membentang dari jendela dan pintu utamanya. Shalat di sini memberi pengalaman yang sulit dilupakan — angin laut, suara ombak, dan kekhusyukan ibadah melebur jadi satu.
Masjid ini juga menjadi bukti nyata bagaimana komunitas nelayan Iboih mempertahankan identitas Islami mereka di tengah perkembangan pariwisata yang pesat. Bagi wisatawan Muslim, singgah sejenak di sini setelah snorkeling adalah pengalaman yang menyeimbangkan jiwa dan raga.
4. Masjid Baiturrahman Cot Ba’u — Cermin Keteguhan Komunitas Lokal
Di kawasan Cot Ba’u, terdapat masjid yang dibangun atas swadaya masyarakat setempat dan telah melewati berbagai babak sejarah Sabang. Masjid Baiturrahman Cot Ba’u mencerminkan bagaimana warga Sabang menjaga warisan agama mereka secara mandiri, bahkan di masa-masa sulit. Desain interiornya sederhana namun menyimpan keindahan yang tulus.
5. Masjid Desa Pria Laot — Pintu Masuk Sejarah Islam Pedalaman Sabang
Desa Pria Laot adalah salah satu perkampungan tertua di Pulau Weh, dan masjid desanya menjadi salah satu peninggalan komunitas Muslim yang paling otentik. Lokasinya yang berada di area pedalaman menjadikannya jarang disentuh arus wisata massal — cocok bagi Anda yang mencari pengalaman religi yang tenang dan mendalam. Arsitektur lokalnya sangat khas dan berbeda dari masjid-masjid modern yang sering kita lihat.
Kesimpulan
Wisata masjid bersejarah di Sabang bukan sekadar agenda tambahan dalam perjalanan — ini adalah cara paling autentik untuk memahami Sabang dari dalam. Setiap masjid menyimpan lapisan cerita yang berbeda, dari jejak pelayaran Islam hingga keteguhan komunitas lokal dalam menjaga identitas religinya di tanah paling barat Indonesia.
Tahun 2026, semakin banyak wisatawan yang mulai memasukkan wisata religi dan budaya ke dalam rencana perjalanan mereka ke Aceh. Sabang, dengan segala kekayaan masjid bersejarahnya, siap menjadi destinasi yang memuaskan tidak hanya mata, tapi juga hati.
FAQ
Apakah masjid di Sabang boleh dikunjungi wisatawan non-Muslim?
Secara umum, wisatawan non-Muslim dipersilakan memasuki area masjid di Sabang untuk tujuan wisata budaya, namun harus berpakaian sopan dan menghormati waktu ibadah. Sebaiknya kunjungan dilakukan di luar jam shalat wajib agar tidak mengganggu jamaah.
Masjid bersejarah mana yang paling mudah dikunjungi di Sabang?
Masjid Agung Babussalam adalah yang paling mudah diakses karena terletak di pusat Kota Sabang, dekat pelabuhan dan area penginapan utama. Lokasi strategisnya membuatnya cocok dijadikan kunjungan pertama sebelum menjelajahi masjid-masjid lain di Pulau Weh.
Apa yang harus dipersiapkan sebelum wisata religi ke masjid-masjid Sabang?
Pastikan membawa pakaian yang menutup aurat — bagi perempuan wajib membawa kerudung, sementara pria disarankan memakai celana panjang. Jaga sikap hormat selama berada di dalam dan sekitar area masjid, serta matikan atau sunyi-kan ponsel saat berada di dalam ruang ibadah.
